Skip to main content

Posts

GAGAL HARAP BERSIHNYA SISTEM PERADILAN

Setelah menunggu sepuluh hari memegang surat tilang dari Polisi, hari ini saya mendatangi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ini adalah pengalaman pertama saya menjalani proses hukum di institusi Pengadilan. Bersiap dengan pakaian rapi karena yang akan saya datangi adalah institusi negara dan segera berangkat saat jam menunjuk pukul 7.30, karena sidang akan berlangsung Pukul 8.00. Makan pagi selesai pukul 7.15. Sambil menunggu pukul 07.30 sebelum berangkat, saya bermain dengan buah hati. Mengendarai sepeda motor yang sama, saya periksa lebih dahulu apakah lampu dan kesiapan kelengkapan kendaraan. Untung hari ini jalur yang dilalui tidak terlampau padat, dan saya tiba di Pengadilan tepat pukul 8:15. Setelah memarkirkan kendaraan dan bertanya kepada petugas pemeriksa dipintu masuk ruang kantor Pengadilan saya di arahkan ke lantai 3 tempat pengambilan SIM sepeda motor berada. Sempat gugup karena terlambat dari jadwal yang tertera didalam surat tilang, saya mendatangi ruan...

Lindungi Diri Sebelum Beraksi

Hari-hari belakangan ini, aksi demonstrasi menuntut pembatalan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kian marak. Situasi di beberapa daerah sudah diwarnai dengan aksi yang cukup memanas. Makasar sudah membara, disusul Lampung dan beberapa tempat lainnya. Tidak hanya mahasiswa, buruh, tani bahkan artis yang anggota DPR sekalipun ikut turun ke jalan. Semakin semaraknya aksi demonstrasi yang dilakukan mengingatkan saya pada situasi dimana banyak teman-teman mahasiswa dan aktivis lainnya mengalami penangkapan dahulu. Ada yang melawan balik petugas yang menangkap, ada yang berupaya melarikan diri dan ada juga yang akhirnya harus mendekam dibalik jeruji. Prihatin mengingat peristiwa yang demikian, saya teringat bahwa LBH Bandung pernah menerbitkan satu buku saku tentang hak-hak tersangka. Namun sayang saya tidak lagi dapat menemukannya. Untunglah belum lama berselang, teman di PBHI Nasional pernah memberikan kesempatan saya untuk belajar dan mencetakkan selebaran bertema yang sama....

PIPIN CEPLOS

Entah kenapa sejak kemarin malam 19/03 pikiran saya “terganggu” dengan akan berlangsungnya Pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Mungkin karena halangan saat pulang kantor ketika saya (ternyata) melalui kantor KPUD DKI yang sedang dipenuhi massa pendukung FOKE – NARA, atau mungkin karena memang sedang “iseng” atau bisa jadi karena pikiran lagi kepingin dibawa serius. Namun yang pasti hingga malam ini 20/03, “gangguan” tersebut masih tersisa dikepala saya. Pagi tadi, saya coba berselancar di jagat maya, mencari tahu siapa saja yang sudah mendaftarkan diri sebagai bakal calon pemimpin di DKI Jakarta ini. Ternyata sudah ramai pasangan yang mendaftarkan diri di KPUD DKI. Ada Alex –Nono, Hendardji-Riza, Jokowi-Ahok, Foke-Nara, Hidayat-Didik yang kesemuanya didukung partai atau koalisi partai atau “mencoba untung” dari dukungan partai. Hanya satu pasangan bakal calon yang menarik perhatian saya Faisal-Biem yang diusung melalui jalur independen. Dari awal memang saya sudah menaruh antipati ter...

RAJA SEDANG PESTA, KAWULO TENANG!!!

“dan Pesta itu pun berlangsung saat jembatan runtuh memakan nyawa kawulo” Seharian ini perbincangan pernikahan Ibas putra SBY dan Alya Putri Hatta Rajasa sangat ramai dibicarakan publik. Ada yang sumringah tak sedikit yang mencibir. Ada yang senang banyak juga yang prihatin. Tapi pasti semua senang, karena Rajanya Raja sedang pesta. Disaat bersamaan dengan diberlangsungkannya pestapora para pejabat di JCC, di Kalimantan, jembatan yang sempat menjadi kebanggaan pemerintahan Kalimantan Timur roboh dan menelan korban. Disaat akad nikah dilaksanakan di Cipanas, Jogja dilanda gempa. Inilah kesempatan besar kaum mistis mengemukakan berbagai teori konspiratif-metafisis bahwa pernikahan terjadi dihari “panas”. Rajanya raja lebih tahu masalah peramalan, kawulo tidak mengerti apa-apa. Rajanya raja sedang pesta, kawulo harus bahagia juga Sebagaimana diungkapkan oleh tamu undangan yang hadir di pesta akbar akhir tahun ini, pernikahan Ibas-Alya cukup sederhana. Ukurannya jelas, karena ada jajanan ...

HUKUMAN TERBERAT TIDAK HARUS HUKUMAN MATI

Hari ini membaca berita di kompas.com tentang hukuman bagi pelaku pornografi anak . Menjadi menarik bahwa hukuman dijatuhkan kepada terpidana karena ia didakwa melakukan tindakan keji "pelecehan sexual" dengan memproduksi dan menyebarkan pornografi anak. Dari hukuman yang dijatuhkan kepada terpidana, terlihat betapa seriusnya pemerintah negara bagian Indiana khususnya dalam memandang persoalan perlindungan bagi warganya khususnya terhadap mereka yang rentan. Bahkan pihak berwajib memasukan penyelidikan kasus ini sebagai "kasus paling penting". Keseriusan ini juga terlihat dari putusan hukuman berupa 315 tahun penjara padahal akan sulit mendapatkan manusia yang dapat terus hidup hingga usia bahkan diatas 90 tahun saja. Pemerintah Indiana juga memasukkan pelaku kejahatan pornografi ini dalam pelanggaran hukum paling". Mencermati kasus ini, yang cukup menarik perhatian adalah bahwa pemerintah tidak menjatuhkan hukuman Mati sebagai hukuman terberat kepada pelaku ke...

BUKAN PERNIHAKAN PUTRA MAHKOTA

Beberapa hari belakangan, media nasional ramai memberitakan akan berlangsungnya perhelatan pernikahan Ibas dan Aliya. Heboh pemberitaan sebenarnya sudah terjadi semenjak pertunangan keduanya dilakukan. Maklum keduanya merupakan anak-anak dari orang berpengaruh di Indonesia. Sang calon mempelai perempuan adalah anak dari Hatta Rajasa yang kebetulan juga merupakan salah satu menteri dari kabinet yang dipimpin oleh ayahanda calon mempelai pria. Seperti halnya berita pernikahan dari anak-anak para pembesar di Indonesia, berita pernikahan Ibas dan Alya menjadi terasa “penting” untuk begitu ramai dibicarakan. Ada beberapa hal yang cukup menarik perhatian dari perhelatan yang begitu banyak menyita perhatian publik akhir-akhir ini. Biaya pernikahan yang menghabiskan milyaran rupiah. Walaupun pernyataan resmi dari sekertaris negara bahwa tidak ada sepeserpun dana negara yang digunakan untuk perhelatan ini, namun pernikahan ini adalah acara yang cukup dahsyat ditengah ditengah krisis yang dilan...

WC, SAMPAH, dan UKURAN PERADABAN

Dalam satu kesempatan ngobrol santai dengan seorang kawan yang aktivis penguatan masyarakat, kawan saya mengatakan bahwa salah satu ukuran peradaban adalah WC. Hal ini katanya diungkapkan oleh sebuah lembaga sosial internasional yang sedang menjalankan programnya di Indonesia. Terbahak ketika pertama kali mendengar hal ini. Namun ternyata ujaran kawan yang aktivis ini justeru menjadi kuman dikepala saya. Sambil terus ngobrol santai, terpikir juga oleh saya kebenaran akan hal tersebut. Saat manusia dalam tahapan perkembangan hidup yang paling sederhana, akan sulit diketemukan WC pastinya. Namun terbersit juga keraguan, bagaimana halnya pada masa manusia pertama kali mengenal penggolongan sosial? Apakah golongan yang “tinggi” juga tidak mengenal WC? Keraguan ini dijawab sendiri dengan mengingat kembali tentang kehidupan di kampung halaman orang tua saya sendiri. Tidak semua rumah memiliki WC. Dari obrolan santai itu lantas terpikir oleh saya lantas kenapa tidak menggunakan sampah? Sampah...